Menikah.

“Before you marry a person, think to yourselves will he/she be fit enough to be the father/mother to your child?”

*

Jujur, tidak mudah menjalin hubungan dengan manusia. Menurutku, ini adalah bentuk interaksi yang paling sulit. Bayangkan, saat dihadapkan dengan realita harus melihat bagaimana sifat asli dari pasangan kita, atau kebiasaan tidak biasa pasangan kita, tidak sedikit yang memilih untuk menyerah dan memutuskan untuk berpisah. Jadi, kembali aku tekankan, saling menerima itu tidak mudah. Tapi apakah bisa? Tentu bisa! Banyak sekali contoh sukses untuk ini.

Tidak segan, dulu yang selalu aku tangguhkan, akhirnya berani aku jalankan; aku siap menghadapi sebuah pernikahan!

Aku, manusia yang tidak mau diatur, dengan berani memutuskan untuk mengikat diri kepada satu wanita yang aku pilih melalui proses taaruf. Taaruf saja merupakan hal yang baru bagiku, apalagi menikah. Hal luar biasa yang Allah limpahkan ke hidupku.

Apakah setelahnya semua terasa mudah? Tidak! Malah sangat tidak mudah. Bukan menakuti, tetapi justru agar kamu, yang hendak menikah, bisa banyak mempersiapkan apa yang perlu dipersiapkan.

Dari pernikahan yang baru berumur dua bulan lebih, ada beberapa hal yang bisa aku pelajari sejauh ini. Yes, it’s an open discussion. If you think that it’s arguable, please do tell me on the comment bellow. J

Komunikasi yang Baik Adalah Hal Utama Dalam Semua Hubungan

Sahabatku Anand dan Acie selalu menitip pesan begini: yang penting semuanya komunikasikan dengan baik ya, Ri.

Ternyata itu benar. Komunikasi memiliki peran yang begitu penting dalam keberlangsungan harmonis atau tidaknya sebuah rumah tangga. Bagaimana kita tahu kemauan pasangan kita, atau bagaimana pasangan kita tahu kalau dia maunya apa, kalau tidak dikomunikasikan? Betul. Semuanya coba dikomunikasikan walau terasa berat dan menyakitkan. Tetapi prinsipku begini: lebih baik kukatakan jujur, agar bisa segera menemukan solusi yang bisa diambil untuk segera menyelesaikan masalah.

Bagi aku yang lulusan Ilmu Komunikasi, ternyata berkomunikasi dengan pasangan bukan juga hal yang mudah, karena banyak ‘gangguan’ yang memengaruhi komunikasi itu sendiri. Seperti keadaan mood yang tidak menentu, kondisi badan yang tidak selalu prima, hingga keadaan perut yang lapar. Pelajari apa yang bisa memengaruhi komunikasi yang tidak baik itu. Bagiku, yang paling sulit adalah saat berada jauh dengan pasangan dan harus berkomunikasi menggunakan telepon selular. Banyak faktor yang memengaruhi texting melalui Whatsapp. Solusi sederhana yang selalu aku ambil adalah: apabila hendak membahas masalah yang berat, kita bahas nanti saat kita bertemu. Padahal inginnya segera aku selesaikan, but in my case, it doesn’t work that way. Tetap harus diselesaikan dengan bertemu.

The point is.. komunikasikan bagaimanapun caranya semua hal yang terkait dengan keberlangsungan rumah tangga itu sendiri. Pelajari dengan baik pola komunikasi seperti apa yang disukai kedua belah pihak. Yes, it takes time but the results are worth the effort.

Me Time

Aku suka dengan konsep me time ini, karena bisa membawa kedua belah pihak ke dalam ‘dunia lain’ selain hal-hal yang berbau rumah tangga. Konsep  me time aku adalah: masing-masing kita menghabiskan waktu sendiri atau bersama teman-teman kita tanpa adanya pasangan kita di sebelah kita untuk sementara. Ingat ya, untuk sementara. Me time yang suka aku lakukan adalah: bekerja (ya. Bekerja adalah salah satu bentuk me time bagiku), pergi dengan sepupu, membaca buku atau melakukan aktifitas dilaptop tanpa diganggu, atau pergi ke rumah orang tua sendirian dan tiduran di kamar. Kegiatan me time ini berhasil membuatku fresh seketika. Tidak perlu biaya mahal.

Namun, temanku Winda memberikan pandangan yang beda tentang me time. Me time yang dimaksudkannya adalah saat laki-laki ada masalah dan diam tidak berbicara (bahkan tidak mau mengajak istrinya berbicara untuk sementara), itu artinya ingin sendiri dulu tanpa perlu diganggu. Ada waktunya laki-laki seperti ini katanya. Dan akan kembali biasa lagi setelah siap.

Semuanya Tidak Bisa Sendiri Lagi, Tetapi Masih Bisa Menjadi Diri Sendiri

Yap, semuanya harus mulai dipikirkan. Tidak bisa mengambil keputusan sendiri lagi. Semuanya perlu didiskusikan apakah sebuah keputusan perlu diambil atau tidak. Plus: punya seseorang untuk berdiskusi agar keputusan yang diambil bukanlah keputusan yang salah. Minus: ruang kebebasan menjadi tidak ada. Semua terbatas.

Dengan kondisi seperti itu, justru mendewasakan kita, karena kita menjadi terlatih untuk bijaksana. Namun, kita juga masih bisa tetap menjadi diri sendiri.  Don’t lose yourself just because you found somebody. Terbatas bukan berarti harus merubah identitas.

Belajar Setiap Hari

Setiap hari adalah waktu yang baru karena akan mengenal karakter yang selalu baru dari pasangan kita. Dan aku rasa pelajaran ini akan berlangsung seumur hidup. Tidak mudah mendapati pasangan kita yang ternyata sifat dan kebiasaannya tidak sesuai dengan apa yang ada di bayangan kita selama ini. Tetapi manusia adalah makhluk yang pintar. Kita bisa berevolusi untuk menyesuaikan diri dengan pasangan kita. Kuncinya balik ke poin nomor satu: komunikasi.

*

Menikah adalah langkah besar dalam hidup manusia. Justru karena menikah langkah yang besar, akan ada tantangan yang besar. Dan karena menikah memiliki tantangan yang besar, akan ada ‘keuntungan besar’ berbentuk pahala yang akan didapat.

Pernikahan membawa banyak pelajaran bagi hidup manusia. Tingkatan hidup yang lebih tinggi akan didapatkan. Kualitas hidup akan meningkat. Karena mengikat diri kepada satu manusia, adalah seperti kita menandatangani kontrak untuk bisa patuh terhadap segala bentuk keuntungan dan cobaan dari ‘Universitas Pernikahan’.

Terlebih, manusia adalah makhluk sempurna nan unik. Manusia seperti sebuah buku yang memiliki cerita tersendiri didalamnya. Pernikahan mempertemukan dua buku yang berbeda. Isi yang berbeda. Yang jika digabungkan, akan menghasilkan buku baru yang berisikan cerita baru yang saling menyempurnakan.

Hijrah.

Aku masih ingat, saat itu aku tengah berada di satu masjid di daerah Bogor, tidak jauh dari hotel tempatku akan bekerja. Aku memasuki area masjid dengan sedikit terlonjak, karena kutemukan sebuah rak buku yang berada di pojokan, dan berisikan banyak sekali buku yang membuatku tertarik untuk mendekatinya.

Kubaca sambil kusentuh perlahan barisan buku itu. Judul-judulnya menarik, namun aku lupa apa saja. Kukatakan menarik karena buku-buku di dalam rak tersebut berhasil membuatku rela duduk pegal berlama-lama sambil berpikir buku mana yang akan aku ambil.

Negeri 5 Menara.

Buku ini berhasil menarik perhatianku untuk mengambilnya. Ditulis oleh seorang anak pondok yang berhasil mengembalikan rasa dimana aku seakan kembali ke dunia Hogwarts melalui tulisannya.

Aku jatuh cinta seketika kepada buku itu setelah melihat halaman yang berisikan syair yang ditulis oleh Imam Syafi’i. Syair ini semacam memiliki ilmu sihir yang kuat. Ia bisa membuatku ingin segera berlari menuju sebuah perbatasan Negara Utopia. Aku baca syair tersebut dengan sangat perlahan dan berulang kali. Aku dalami maknanya. Aku resapi. Aku rekam sebisa mungkin diotakku..

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampong halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan

Hijrah.

Itu inti dari syair yang Imam Syafi’i tulis diatas.

Hijrah adalah sebuah proses metamorphosis untuk meraih kualitas hidup lebih tinggi. Setidaknya itu yang dikatakan tegas oleh Komarudin Hidayat dalam bukunya yang berjudul Psikologi Kematian. Ia analogikan hijrah seperti kepompong yang berproses hendak menjadi kupu-kupu yang kemudian bisa menikmati indahnya udara, taman bunga, beterbangan dengan sesama temannya.

Imam Syafi’I maupun Komarudin Hidayat, (belum lagi perkataan banyak orang hebat lainnya tentang konsep ‘hijrah’) adalah dua orang yang bisa dikatakan mengenalkanku dengan kata hijrah. Aku menjadi merasa tidak asing dan justru ingin terus berdekatan dengan kata hijrah. Ingin kulakukan segera, namun aku tidak paham bagaimana caranya? Haruskah aku menempuh perjalanan sangat jauh atau pergi ke Negara Utopia?

*

Hidup merupakan proses hijrah. Setiap harinya kita berhijrah. Mungkin kita tidak pernah menyadari itu.

Hijrah dari tidak mau menjadi mau, dari tidak bisa menjadi bisa, dari buruk menjadi baik, dari tidak tahu menjadi tahu, dan seterusnya. Berbagai macam bentuk hijrah telah kita alami dalam hidup ini.

Aku dulu memikirkan bahwa dengan mendapatkan beasiswa ke luar negeri adalah satu-satunya bentuk hijrah yang sempurna dan harus aku lakukan. Iya, ternyata aku salah.

Bisa kau katakan hijrah kepada apapun dalam hidup yang sedang kau jalani, selama hijrah ini membawa banyak sekali kebaikan.

Sekitar Awal tahun 2008 aku memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanku sebagai reporter dan berhijrah menjadi penyiar, karena aku tahu bahwa menjadi penyiar adalah pekerjaan yang jauh lebih ‘besar’ tanggung jawabnya dan tentunya itu akan membawa banyak kebaikan untuk kedibilitas diriku.

Sekitar Awal tahun 2016 aku memutuskan untuk berhijrah ke Jakarta, dengan pikiran bahwa aku akan memiliki karir yang lebih baik. Ternyata aku salah. Aku perlu kembali hijrah ke Bandung, karena aku tahu, walaupun di Bandung aku (mungkin) tidak memiliki karir yang baik seperti di Jakarta, namun setidaknya aku mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan banyak membawa kebaikan di Bandung.

Sekitar Awal tahun 2017 aku memutuskan untuk berhijrah meninggalkan karirku di tempat yang telah menumbuhkembangkan aku selama sembilan tahun, menuju ke pencarian karir yang aku harapan justru akan membawa banyak kebaikan untuk hidupku.

Sekitar pertengahan April 2017, aku berhijrah untuk meninggalkan peranku sebagai manusia yang asik berjalan sendiri, menjadi manusia yang tidak merasa terusik saat harus berjalan beriringan dengan manusia lainnya; menjadi suami.

**

Hijrah sendiri banyak memberikan pelajaran untuk mengenal kesalahan, yang akan menumbuhkan banyak kebijaksanaan dalam cara berpikir manusia. Hijrah memberikan banyak pemahaman dikala kita sedang melakukan sebuah perjalanan hijrah itu sendiri.

Maknai hijrah sesuai dengan keinginan kita. Jangan terpatok bahwa hijrah haruslah hal yang besar. Hal kecil namun bila memberi impact yang besar untuk kebaikan diri kita sendiri, itulah hal yang lebih patut dilakukan. Inti dari hijrah adalah diri kita. Bukan orang lain. Hijrah tidak butuh penilaian orang. Indikatornya bukanlah mereka. Tapi aku. Saya. Rasakan bahwa hijrah adalah tiket percepatan menuju kebaikan. Hijrah meluputkan diri dari keburukan. Cari itu. Lakukan itu.

Sadari hijrah setiap kita terbangun pada pagi hari, lalu yakini bahwa hari ini haruslah lebih baik dari diri kita di waktu kemarin.

Pembuka.

Sungguh tidak mudah bagi saya untuk kembali melakukan kegiatan yang paling saya sukai; menulis. Setelah mengalami proses hijrah semenjak tanggal 11 Desember 2016, saya memutuskan untuk kontemplasi; fokus beribadah kepada Allah Azza Wa Jalla. Saya mengambil banyak keputusan penting nan mendadak saat itu. Dimulai dari berhenti bekerja di tempat yang sudah membangun nama dan kredibilitas saya selama 9 tahun, memutus kontrak pekerjaan sebagai pewara yang sudah saya terima, dan yang dikatakan keluarga paling ekstrim adalah merubah penampilan; menggunakan celana cingkrang (celana diatas mata kaki) dan berjenggot.

Sejak hijrah, banyak yang bertanya; Kamu kenapa? Apa yang terjadi sehingga kamu bisa berubah sedrastis ini?

Sayangnya, jika kalian para pembaca blog saya ini berharap saya akan menjawab secara detail, saya tidak akan melakukannya. Tapi tunggu! Yang akan saya berikan insyaallah jauh lebih berguna bagi kalian yang membacanya.

Begini..

Perlu disadari, dan perlu juga dipahami, bahwa setiap manusia pasti melakukan kesalahan. Ini perlu disetujui, karena setelah sadar dan paham, manusia akan mudah memaafkan dirinya sendiri saat membuat kesalahan. Termasuk saya. Dalam hidup, saya sadar, saya perlu ditempa banyak kesalahan; entah itu salah mengambil langkah, atau salah berbuat. Membuat kesalahan ini yang memaksa saya untuk berhenti dan berpikir ulang; apa benar ini jalan yang saya pilih?

Gambarannya begini..

Kita semua pasti pernah bepergian, misal merencanakan untuk pergi ke rumah sahabat. Anggap saja ini adalah kali pertama pergi kesana. Untung, dewasa ini sudah ada gmaps atau waze yang bisa membantu kita mencari jalan. Namun buktinya tetap saja, kedua aplikasi itu bisa saja salah. Nah, saat aplikasi tersebut menunjukan jalan yang salah, pasti kita akah berhenti dan berbalik arah. Atau berbelok ke arah yang benar. Bukan begitu? Ini yang terjadi pada manusia saat membuat kesalahan. Mereka akan berhenti mendadak, lalu berbalik arah, atau akan belok ke jalan yang benar. Pun dengan saya.

Saya sadar, dalam perjalan hidup saya, saya sering membuat kesalahan-kesalahan kecil, yang pada akhirnya mengarahkan saya menuju ke kesalahan yang besar! Hingga satu waktu, tepat tanggal 11 Desember 2016 itu, saya memaksa (atau lebih tepatnya dipaksa) untuk berhenti. Saya mulai melihat, ternyata jalan hidup yang saya pilih adalah sebuah kesalahan besar! Saya terhempas jauh dari jalan yang benar. Saya perlu bergegas kembali. Inilah yang dikatakan banyak orang sebagai ‘menerima hidayah’.

Mulailah saya berkontemplasi. Memikirkan apa yang salah, yang perlu diperbaiki dan ditinggalkan. Untuk itu, saya tidak kesusahan melepas dan menanggalkan. Saya tinggal memilih mana jalan yang perlu diucapkan ‘selamat tinggal’, atau ‘ sampai jumpa lagi’.

Keputusan berhenti dari pekerjaan atau meninggalkan pekerjaan memang terkesan mendadak, namun sebenarnya rencana tersebut sudah ada dalam alam bawah sadar. Saya tahu sejak lama saya sudah harus berhenti dari pekerjaan itu, dengan dalih sudah saatnya saya mencari petualangan baru. Dan begitulah. Semua terjadi diwaktu yang tepat, atas suratan takdir Allah Sang Maha Pengatur segala.

*

Telah banyak hal terjadi dihidup saya belakangan ini, yang membuat saya berpikir ulang tentang tujuan hidup dan apa yang benar atau salah di hidup saya. Perlu rasanya saya bagikan cerita yang saya alami, dengan harapan ini akan menjadi amal jariyah untuk saya kelak. Blog baru ini insyaallah akan saya isi dengan ‘kesalahan-kesalahan’ atau pengalaman-pengalaman yang (semoga) bisa menjadi pelajaran bagi semua, khususnya bagi saya pribadi.

Dalam perjalanan menulis nanti, tidak mungkin saya tidak berhadapan dengan kesalahan kembali. Jadi, jangan mengharapkan ada kesempurnaan dari apa yang akan saya tuliskan. Bisa jadi apa yang saya tulis disini juga salah. Mari kita sama-sama belajar.

Saya beri nama blog ini Berjalan dari Dua Delapan. Dua Delapan merupakan umur saya sekarang, umur dimana perjalan baru dimulai. Mengapa Berjalan? Karena sesungguhnya kita lebih menikmati pemandangan dan lebih mudah mengamati realitas sosial sambil berjalan, bukan?

Blog ini adalah pengingat dikala saya tersesat, yang bisa menjadi penunjuk arah agar saya bisa tahu kapan harus berputar arah, berbelok, atau berhenti sesaat.

Silakan persiapkan kopi dan kudapan favorit, lalu nikmatilah setiap kata yang saya tulis disini.

Kang Hari

26 April 2017